| Bunda Evri - Juara 3 Lomba Menulis Ultah BIB |
|
|
|
| Written by admin | |
| Friday, 20 June 2008 | |
|
Bagaimana BundaInBiz Mempengaruhi Hidup Saya – By Evri Kata orang, apa yang Anda jalani saat ini adalah hasil keputusan Anda di masa lalu. Kalau orang-orang multilevel marketing lebih spesifik lagi, apa yang Anda jalani saat ini adalah hasil keputusan Anda tiga tahun lalu. Mmmm…. Ada benarnya juga. Sekitar dua tahun yang lalu, saat saya mulai merasa tidak nyaman dengan pekejaan di kantor, saat saya mulai berpikir untuk pindah dari zona nyaman dengan gaji bulanan, saat itulah saya mulai rajin browsing internet di kantor tentang bekerja dari rumah. Ya, saya memang pernah bercita-cita jadi ibu rumah tangga yang baik. Saya ingat betul pernah melontarkannya di kelas kursus bahasa Inggris ketika masih SMA dulu. He he he.. masih jauh ya untuk jadi ibu rumah tangga. Tapi pada saat itu, saya belum mencoba menginternalisasi (walah, bahasanya, Bu…) cita-cita tersebut ke dalam diri saya. Istilahnya masih blank alias belum terbentuk. Perlahan ketika saya lulus kuliah dan mulai bekerja saya mulai proses internalisasi cita-cita saya. Saya mulai berpikir untuk mengarahkan hasil gaji saya membangun sebuah bisnis.Tapi, apa mau dikata, sebagai sosok manusia yang tidak pernah pegang uang banyak (ibu saya single mother sejak Bapak meninggal dunia, saat itu saya masih kelas enam SD sementara kami besaudara lima orang dan masih sekolah semua), kaget dengan uang gaji yang lumayan besar di tahun 1997.. berapa ya… hmmm….Rp. 1,2 juta lumayan kaaan…Walhasil gajian bagaikan isi ulang tabungan saja, hard to come but easy go he he he… Sebetulnya saya memang agak setengah hati untuk punya bisnis sendiri, mungkin karena merasa tidak bisa jualan. Sering kali saya merasa sedih kalau menawarkan sesuatu ke orang, tapi tidak direspon dengan baik. Rasanya sesak banget di dada. Pernah ikutan MLM. Lagi-lagi dipakai sendiri, tidak punya downline, tidak menawarkan ke orang lain. Prinsip saya saat itu, biar aja deh orang lihat bahwa saya pakai produk itu, kalau mereka tertarik ya saya jual he he he.. kapan majunya, dek… Tapi keinginan untuk punya bisnis sendiri dan bekerja di rumah tetap saya tanam di hati saya. Terlebih setelah saya menikah, keinginan untuk bekerja di rumah semakin besar. Mulailah saya berkenalan dengan BundainBiz. Saya buka website nya, saya lihat profil pendirinya. Subhanallah, bunda-bunda ini memang luar biasa. Bisa nganter jemput anak ke sekolah, bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga, bisa bebenah rumah, tapi masih bisa bisnis juga. Wuiiiihh… Kemudian saya ikutan milis. Masih polos, bingung, kok pada jualan semua ya? Ya iyalah, namanya juga Bunda in Biz….Saya buka blog-blog jualan Bundas. Barangnya bagus-bagus. Lalu, mulai mencoba jadi pembeli online, belajar bikin blog gratisan, sampai akhirnya terpikir untuk ikutan Bundas yang lain untuk buka toko online. Salah satu resolusi saya untuk tahun 2008 ini adalah punya blog jualan. Mulai deh saya buat account di multiply. Oiya sebelumnya sudah ada yang mengundang saya untuk gabung di multiply, tapi saya pikir itu cuma untuk pergaulan mencari teman saja. Baru ‘ngeh’ kalau multiply bisa buat jualan ketika buka-buka blog jualannya para BIBers. Alhamdulillah setelah berjuang beberapa bulan, akhirnya resolusi itu terwujud. Ya, momen itu datang di suatu warnet dekat rumah, dimana saat itu saya ‘ngenet’ sampai habis Rp. 15.000,- (biasanya dua jam alias delapan ribu sudah cukup). Legaaaaaa sekali. Saat itus rasanya tidak sabar untuk cerita ke suami saya, bahwa finally I have my own ‘jualan blog’.. hi hi hi… norak ya…? Saat itu dagangan saya baru produk kesehatan saja, ya ditambah penggembiranya adalh jasa les privat dan terjemahan. Terus terang belum terpikir untuk jualan yang lain. Sudah punya toko, harus iklan dong biar pada beli. Nah akhirnya mulailah saya ber TABIB ria. Berikutnya, jualan sepi lagi. Alhamdulillah suami saya sangat mendukung keinginan saya untuk bekerja di rumah. Dari dialah semangat itu terus mengalir. Ketika rasa putus asa mulai menyergap, dan saya tumpahkan ke dadanya, seketika itu juga dia alirkan semangat untuk terus bersabar dan berusaha. Tengkyu, Bang… J Saya tetap setia mengiklankan toko saya, hingga suatu ketika ada BIBers yang mencari satu produk yang saya kebetulan ada stoknya tapi belum saya jual. Langsung saja saya beranikan diri untuk japri langsung ke beliau. Ditungg-ditunggu.. hmmm ada balasan email dari beliau. Saya buka dengan penuh harapan, namun sayang sekali ternyata beliau sudah beli dari orang lain. But, It’s okay, rezeki ga akan ketuker… paling-paling sandal yang ketuker… he he he.. Bebrapa hari kemudian, masuk lagi email darinya, ternyata beliau pesan lagi untuk saudaranya. Alhamdulillah ya Allah…saat ini rizki itu dapat kujemput. Mulailah saya menyiapkan pesanannya, membeli persediaan barang, dan mengiklankan produk tersebut. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari belajar. Belajar mencari peluang, belajar melayani pelanggan, belajar sabar menunggu transferan :-p, belajar beriklan yang efektif. Jualan, yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan dengan serius akhirnya bisa juga saya lakukan. Kendala ‘malu’ menawarkan barang dagangan teratasi dengan toko online. Merasakan manfaat berpikir dan berperasaan positif juga telah memberi pengaruh yang besar terhadap kematangan jiwa saya. Terus terang, sebelumnya saya mudah ‘naik darah’ ketika ada suatu peristiwa yang tidak saya inginkan. Namun diskusi di milis BIB yang membahas tentang keikhlasan dalam berdagang, membawa saya untuk menyelami lebih dalam tentang hal tersebut. Saya coba menerapkannya untuk saya pribadi, kemudian mencoba mentransfernya ke orang lain. Well, it’s work. Hidup terasa lebih ringan. Dari komunitas ini, saya belajar dari pengalaman BIBers yang bermanfaat buat saya pribadi. Belajar berbisnis dengan tidak menyakiti, berbisnis dengan menjalin persahabatan. Dan yang lebih penting lagi, di komunitas ini tidak ada kata pelit berbagi informasi, bahkan untuk tips and trick berbisnis. Terbuka sekali, Semuanya saling berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan, saling menasehati. Wisss….. pokoke positif banget nuansanya…. Terimakasih buat para pendiri BIB, buat moderator, buat BIBers, buat pelanggan,… I’m happy and proud being a member of this community… |























